Diskripsi Blog

...mintalah bantuan kepada tangan kananmu. Dan lelaki itu membuat tulisan dengan tangannya.

Menampilkan postingan dengan label Muisi

Puisi | Seniman

Seniman menginginkan umur panjang. Maka ia berkarya. Agar dirinya bisa dikenang. Melampaui usia. Lukisan menangkap suasana. Serta warna di dalamnya. Di atas kanvas yang berlumur cat air. Lukisan da…

Puisi | Kupu-Kupu

Kemarau lalu. Telur ulat menetas. Jadi ulat kecil yang lugu. Merambat menggeliat. Asik sendiri. Diatas pohon jati. Ulat kecil makan daun. Delapan belas kali sehari. Makin lama makin menjadi. Rakus …

Puisi | Terkenang Dulu

Di dasar lamunan. Menerawang membentang. Merangkum semesta. Meringkas peristiwa. Ingatan masa. Sebelum dewasa. Gurauan anak anak. Suara ledak tawanya. Dongeng malam hari. Tentang apa saja. Yang han…

Puisi | Dialog Suara

Aku sengaja membuka dialog. Bersama puisi. Yang baru sembuh. Setelah sakit batuknya kambuh. April pemilu kataku. Tentang politik yang dibencinya dari dulu. Aku coba menggoda. Biar sekali kali ia ke…

Puisi | Doa Nelayan

Wahai malam tanpa rembulan. Dingin berhembus angin sapuan. Berat sauh telah diangkat. Teramat jauh kami berangkat. Wangi bunga dalam mimpi. Semoga tidur mereka kau singgahi. Si anak kesayangan. Dan…

Puisi | Penyiar dan Penyair

Hari pertama: Berita dan puisi sama sama berjanji. Bertemu di Bukittinggi. Januari tanggal tiga. Di bawah jam gadang pukul lima. Hari kedua: Berita menjadwalkan keberangkatan perjalanan. Puisi memb…

Puisi | Bunga Tanpa Layu

Kemarin malam bungaku datang. Mekar cemerlang. Berkelopak merah. Merangkak tinggalkan taman. Memanjat pagar menuju rumah. Aku belum banyak tau tentangnya. Yang aku ingat. Ia bunga yang bersinar saa…

Puisi | Surat Terkorup

Kubacakan kepada siapa surat surat ini dikirim : Kepada mulut mulut penipu.  Yang mengantarkan kebisuan pada telinga.  Bicara tanpa lupa.  Menggarami luka. Kepada mata mata membisu.  Yang melolongi…

Puisi | Belenggu

Dari kecil aku penasaran. Sejak kapan tuan menginap. Tengah malam kutanyakan. Sampai kapan tuan menetap. Sebenarnya tuan ini siapa. Atas dasar apa. Campuri hidup orang segala. Iba jadinya aku. Pada n…

Puisi | Orang Kita Masih Saja

Mengapa orang kita masih saja beradu. Lupa berbeda tetap satu. Mengapa orang kita masih saja bernafsu. Miliki semua yang tak perlu. Mengapa orang kita masih saja marah. Di atas bumi yang terkenal r…

Puisi | Tamu

Kau ketuk. Namun tak boleh masuk.  Kau masih tamu. Aku tak berani buka pintu.  Nanti berderit. Puisiku sedang sakit.  Ia diatas ranjang kayu. Bekas nenekku.  Meringkuk di bawah selimut.  Tangannya …

Puisi | Ulang Tahun

Dari pedalaman sini kupikirkan: Siapa yang berulang tahun hari ini. Kutanya. Benar kalau dua puluh tiga tahun lalu aku lahir. Tahun kabisat. Saat kebetulan waktu sudah bisa dihitung. Maka tanggal l…

Puisi | Sesalan Sedikit, Bualan Selangit

Bolehkah aku berjalan mundur. Membalik waktu.  Menelusuri langkah. Menghapus jejak.  Meluruskan kebengkokan. Menghilangkan dendam.  Mengoreksi kata…

Puisi | Gagak Hitam

Dia selalu punya satu. Puisi indah bernada ramah. Kekaguman terhadap alam. Sebuah puisi burung. Dia bercerita. Tentang pagi dan mentari. Tentang nyanyian pengusir sepi. Keindahan warna. Kelincahan …

Puisi | Besarnya Bencana Bermula

Aku lahir sepercik api.  Tumbuh bara.  Disulut menjadi nyala.  Membakar dan mengkhianat.  Kepada pemantik. Aku turun tetesan hujan.  Bersekutu dengan sungai.  Dikotori menjadi banjir.  Menyapu dara…

Puisi | Mandalika

Ini kisah tua dari Lombok. Dituturkan turun-temurun jadi dongeng. Kisah ini menyebar di timur Indonesia. Ini kisah tentang cinta. Tentang Mandalika, Putri Mandalika. Nun jauh diseberang waktu. Ters…

Puisi | Pemulung dan Wanita Impiannya

Hari ini. Untuk kesekian kali aku bangun di Jakarta. Masih dalam mimpi burukku. Kucari nafkah jalan kaki. Untuk makan. Nasiku besi tua, laukku samp…

Puisi | Sebagai Bapak dari Seorang Lelaki

Sebagai Lelaki, Benar atau salah itu urusan nanti. Kakimu terlatih untuk berpijak pada ketidakpastian. Badanmu goyah tetapi pandanganmu harus tetap…